Mengenal Sosok Tunov : Petani Cabai Magelang yang dimusuhi Para Mafia Tengkulak

Posted on

Mafia cabai yang berharap mendapat untung besar dari ”menggoreng” harga pun merugi. Ada tengkulak yang rugi hampir Rp 2 miliar akibat gelontoran cabai segar Tunov dan kawan-kawan.
Gerakan Tunov dan para petani itu mendapat perlawanan. Sejumlah tengkulak menebar teror dan ancaman kepada petani dan pedagang yang menerima pasokan cabai dari Magelang. Namun, Tunov dan kawan-kawan tetap bergeming.

tunov-4

Berkat usaha keras mereka, harga cabai di tingkat petani bisa menguntungkan. Gerakan mereka juga mendapat dukungan para petani cabai lainnya, bahkan yang berasal dari kecamatan lain, seperti Grogol, Kajoran, Dukun, Pakis, dan Kopeng di Kota Salatiga.

Gapoktan Giri Makmur yang dipimpin Tunov semakin berkembang. Anggotanya kini berjumlah 700 petani yang tersebar di Kecamatan Secang dan Grabag.

Gerakan mereka juga memengaruhi harga jual cabai di pasar Jakarta. Jadilah Tunov sering diajak rembuk di tingkat Kementerian Pertanian dan instansi lain untuk menemukan formula pertanian dan tata niaga cabai di tingkat nasional. Ia menjadi satu dari sembilan petani andalan cabai dari sejumlah daerah di Indonesia.

Anak petani

 Pertanian lekat dengan kehidupan Tunov. Sang ayah, Martoyo Cokro Miharjo, adalah petugas penyuluh pertanian sekaligus sahabat petani, khususnya petani cabai.

”Orangtua saya memberi nama Tunov karena saya lahir pada tujuh November,” kata Tunov, petani cabai di lereng Gunung Merbabu ini seraya tertawa.

Sebelum menjadi petani cabai, Tunov sempat mengambil jalan hidup lain. Dia memilih bersekolah di Akademi Seni Rupa dan Desain Modern, School of Design Yogyakarta. Setelah itu, dia sempat bekerja dalam industri film. Tunov antara lain pernah menjadi produser film dan bekerja dengan Deddy Mizwar pada 2009.

Baru pada 2013 Tunov memutuskan kembali ke ”akar” kehidupan masa kecilnya, yakni pertanian. Tanpa merasa canggung sedikit pun, dia kemudian mengolah tanah dan menanam cabai di lahan milik bersama para petani.

tunov-5

Tunov kemudian menikmati kehidupannya sebagai petani. Dia kembali akrab dengan para petani, hingga diangkat sebagai pembina petani pada 2013. Belakangan, setelah ia berhasil menggunting cengkeraman mafia, budidaya cabai semakin ramai dan menyebar di Magelang dan sekitarnya.
Melihat keberhasilan itu, Bank Indonesia Perwakilan Jawa Tengah selaku ketua tim pengendali inflasi daerah tertarik dengan pola pengembangan cabai yang dilakukan Gapoktan Giri Makmur.
Instansi itu lantas memberikan tugas kepada dia untuk menyiapkan sekitar 6.000 benih cabai. Bibit itu nantinya akan ditanam para ibu dalam program Kampung Cabai di 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

”Kalau satu desa menanam 15.000 pohon cabai sudah setara dengan menanam pohon cabai 1 hektar. Para ibu bisa menanam cabai di rumah, cukup 10-20 pohon cabai di polybag. Hasilnya bisa mencukupi kebutuhan mereka sendiri,” ujar pria lajang tersebut.
Gerakan ini digulirkan guna mendorong swasembada cabai untuk rumah tangga. Tujuannya para ibu tetap bisa membuat sambal meski harga cabai melangit.

Baca Profile Tunov Mondro Atmojo di Halaman Berikutnya ………………………………….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *